BANDA ACEH | INFOSA.ID – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) memecahkan Rekor MURI untuk kategori Pembukaan Rekening Emas BSI oleh Sivitas Akademika Terbanyak.
Sebanyak 3.561 Rekening Emas BSI berhasil dibuka dalam waktu hanya 7 jam, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, Rabu (4/11/2026) di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) itu diraih lewat kolaborasi BSI Regional 1 Aceh bersama UIN Ar-Raniry Banda Aceh, didukung sinergi sejumlah kantor cabang BSI yang serentak melayani pembukaan Tabungan Emas.
Direktur Compliance & Human Capital BSI Arief Adhi Sanjaya mengatakan, rekor ini bukan sekadar pencapaian angka, melainkan momentum membangun kesadaran generasi muda tentang perencanaan keuangan sejak dini.
“Kami bersyukur atas pencapaian yang mendapat pengakuan dari MURI ini. Bagi BSI, rekor ini bukan sekadar pencapaian angka, tetapi menjadi momentum untuk membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya perencanaan keuangan sejak dini,” ujar Arief.
Menurut Arief, emas dapat menjadi salah satu pilihan instrumen untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang secara bertahap.
Ia menambahkan, lingkungan perguruan tinggi merupakan ekosistem strategis dalam meningkatkan literasi keuangan syariah. BSI terus mendorong kolaborasi dengan institusi pendidikan untuk hadirkan layanan yang mudah diakses dan relevan bagi generasi muda.
“Kami ingin mahasiswa dan seluruh sivitas akademika tidak hanya semakin dekat dengan layanan perbankan syariah, tetapi juga memiliki pemahaman dan kebiasaan yang baik dalam mengelola keuangan serta membangun aset sejak dini,” lanjut Arief.
Sementara itu, RCEO BSI Regional 1 Aceh Imsak Ramadhan mengatakan keberhasilan ini membuktikan kesiapan jaringan layanan dan infrastruktur digital BSI.
“Pencapaian ini menjadi bukti bahwa BSI memiliki kesiapan jaringan layanan dan infrastruktur digital yang sangat baik. Melalui dukungan teknologi digital, sinergi jaringan kantor cabang, serta kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry, kami mampu melayani pembukaan 3.561 rekening Tabungan Emas dalam waktu hanya tujuh jam,” ujar Imsak.
Imsak menegaskan, BSI Regional 1 Aceh akan terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk memperluas pemanfaatan layanan keuangan syariah di Aceh.
Perkuat Ekosistem Bullion BSI
Pencapaian di UIN Ar-Raniry sekaligus menjadi bagian dari upaya BSI memperkuat pengembangan bisnis bank emas atau bullion bank.
BSI terus membangun ekosistem emas terintegrasi yang mencakup perdagangan emas, simpanan emas, penitipan emas dengan fasilitas penyimpanan berstandar internasional, cicil emas, gadai emas, hingga produk BSI Gold.
Untuk segmen ritel, masyarakat dapat mulai memiliki emas dengan nominal terjangkau, mulai dari Rp50 ribu melalui aplikasi BYOND by BSI.
Kinerja bisnis emas BSI terus tumbuh positif. Hingga Juni 2026, BSI telah memperdagangkan 8,06 ton emas dan memiliki lebih dari 1,7 juta nasabah bullion. Fee-based income dari bisnis emas hingga Oktober 2026 melonjak 420 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Adapun outstanding pembiayaan gadai dan cicil emas mencapai Rp30,5 triliun atau tumbuh 80,5 persen.
Kanal digital menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut. Jumlah pengguna layanan Tabungan Emas melalui BYOND by BSI telah tumbuh menjadi lebih dari 1,7 juta nasabah. Pada 2026, BSI menargetkan lebih dari 2 juta pengguna BYOND by BSI melakukan transaksi emas.
Tidak hanya ritel, BSI juga memperluas ekosistem bullion untuk segmen korporasi melalui BEWIZE Gold yang resmi diluncurkan pada 27 Oktober 2026 dalam rangkaian BSI International Expo.
Layanan ini memungkinkan perusahaan dan institusi membuka rekening emas secara online serta melakukan transaksi pembelian, penjualan, dan transfer emas yang terintegrasi dengan platform cash management BEWIZE by BSI.
Dalam pengembangan bisnis bullion, BSI telah mengantongi tiga izin dasar berdasarkan POJK Nomor 17 Tahun 2024, yakni jual beli emas, penitipan emas, dan simpanan emas, serta tengah mengkaji pengembangan izin pembiayaan emas.
Seluruh transaksi emas BSI memiliki underlying berupa emas fisik yang disimpan pada fasilitas penyimpanan berstandar internasional, telah memperoleh persetujuan Dewan Pengawas Syariah, serta berada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Aceh memiliki posisi yang sangat strategis bagi BSI, khususnya dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah. Kami berharap pencapaian bersama UIN Ar-Raniry ini menjadi langkah awal untuk memperluas edukasi dan inklusi investasi emas,” tutup Arief.[]











Tidak ada Respon