GeRAK Aceh Perkuat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Abdya

6 dilihat
Gerak Aceh menggelar Lokakarya Resiliensi Iklim dengan tema “Integrasi Pengetahuan Lokal untuk Mitigasi Dampak Iklim” di Gampong Suak Nibong, Kecamatan Tangan-Tangan, Selasa, 27/10/2026. (Foto: INFOSA.ID/HO)
A-AA+A++

BLANGPIDIE | INFOSA.ID – GeRAK Aceh memperkuat ketahanan iklim berbasis komunitas di Kabupaten Aceh Barat Daya melalui Lokakarya Resiliensi Iklim dengan tema “Integrasi Pengetahuan Lokal untuk Mitigasi Dampak Iklim”.

Kegiatan yang digelar di Jambo Tani, Gampong Suak Nibong, Kecamatan Tangan-Tangan, pada Selasa (27/10/2026) itu menghasilkan dokumen rekomendasi bersama yang ditujukan kepada pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.

Lokakarya yang bekerjasama dengan Publish What You Pay (PWYP) Indonesia ini menjadi ruang pembelajaran dan kolaborasi antar-komunitas yang bergerak di isu lingkungan, pertanian, konservasi hutan, pengelolaan sampah, dan perlindungan kawasan pesisir di Aceh Barat Daya.

Kegiatan diawali sambutan dari GeRAK Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya melalui Bapperida, dilanjutkan penanaman bibit pohon bersama sebagai simbol komitmen pelestarian lingkungan. Penanaman dilakukan secara simbolis oleh Kapolsek Tangan-Tangan, Staf Ahli Bupati, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), dan GeRAK Aceh.

Lokakarya menghadirkan tiga narasumber. Yosia Ginting dari BBTNGL membahas pentingnya konservasi Taman Nasional Gunung Leuser, perlindungan keanekaragaman hayati, serta ancaman deforestasi, karhutla, dan gangguan habitat satwa. Sementara Dewi Marlina, Staf Ahli Bidang Perekonomian Abdya, memaparkan inovasi pengelolaan sampah organik melalui ekoenzim (eco enzyme) yang dapat dikembangkan menjadi ekokarbol sebagai pembersih rumah tangga.

Narasumber ketiga, praktisi iklim Adami Usman, memperkenalkan pertanian cerdas iklim melalui pemanfaatan pupuk organik cair (POC) dan insektisida nabati dari bahan lokal.

Tak hanya teori, peserta juga praktik langsung pengolahan ekoenzim menjadi ekokarbol serta pembuatan POC dan pestisida nabati.

Manager Program GeRAK Aceh, Fernan, menegaskan lokakarya ini penting untuk mendengar langsung tantangan iklim di tingkat gampong dan mencari solusi bersama.

“Lokakarya ini menjadi penting untuk belajar bersama akan dampak perubahan iklim. Mendengarkan lebih dalam tantangan serta mencari langkah bersama menghadapi perubahan iklim yang dihadapi masyarakat gampong,” ujar Fernan.

Hasil utama kegiatan ini adalah tersusunnya rekomendasi bersama komunitas. Dokumen tersebut berisi aspirasi dan kebutuhan komunitas agar menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan, program, dan dukungan pendanaan bagi penguatan resiliensi iklim berbasis masyarakat.

GeRAK Aceh menekankan, aksi lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada komunitas. Diperlukan kolaborasi berkelanjutan dari pemerintah melalui penguatan kapasitas, pendampingan, akses pendanaan, dan integrasi praktik baik komunitas ke dalam perencanaan pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berketahanan iklim. []

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *